Di tahun ajaran 2025/2026, Pemerintah telah mencanangkan Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai bagian dari kurikulum di sekolah formal. Namun, pendidikan kesetaraan belum diwajibkan untuk memasukkan koding, bahkan mata pelajaran Informatika, di dalam kurikulumnya.
PKBM Pemimpin Anak Bangsa, sebuah PKBM bebas biaya yang khusus disediakan untuk masyarakat prasejahtera, memasukkan Informatika sebagai komponen yang penting di dalam pembelajarannya. Pertama, Informatika dasar diajarkan sebagai bagian dari mata pelajaran Keterampilan, meliputi kemampuan mengoperasikan Aplikasi Pemrosesan Kata dan Angka berupa Google Docs, Google Sheets, dan Google Forms. Materi ini tersedia untuk Fase D (Paket B) dan Fase E (Paket C). Terdapat kesempatan untuk belajar Koding dengan menggunakan Scratch, sebuah platform dari MIT.
Selanjutnya, melalui mata pelajaran Informatika Tingkat Lanjut di Fase F (Paket C), murid-murid mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi lebih, dengan pilihan mengikuti materi:
- Java Fundamental bagi murid yang memilih konsentrasi IPA. Dalam kelas ini, mereka belajar Bahasa Pemrograman berbasis objek Java dengan Alice, Greenfoot dan Eclipse sebagai IDE, dengan kurikulum yang berasal dari Oracle Academy. Tersedia sertifikasi keikutsertaan yang diterbitkan oleh Oracle Corp., salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, dan tersedia pula kesempatan untuk mengikuti sertifikasi internasional bagi mereka yang siap untuk menjalani ujiannya.
- Akuntansi berbasis Informatika bagi murid yang memilih konsentasi IPS. Dalam kelas ini, mereka belajar lebih dalam akuntansi (yang di dalam buku ajar kurikulum merdeka menjadi sangat minim dipelajari), dengan mengimplementasikannya dalam Aplikasi Pengolah Angka yang telah dipelajari sebelumnya.
Pengaturan mata pelajaran Informatika ini sekaligus menepis anggapan, bahwa belajar di Pendidikan Kesetaraan identik dengan tidak adanya kesempatan untuk menguasai teknologi.